Persaingan industri penerbangan akan semakin sengit. Menyusul langkah China meluncurkan pesawat komersial pertama mereka Comac C919, Rusia juga turut menantang Airbus dan Boeing dengan mengeluarkan Irkut MC-21.
Kedua pendatang baru ini akan menantang dominasi pesawat jet komersial, yang saat ini dikuasai Boeing asal Amerika Serikat dan Airbus dari Eropa. MC-21 dan C919 yang mempunyai kursi 150-an penumpang dan menyasar penerbangan untuk jarak menengah (middle range) akan berhadapan head to head dengan Boeing-737 dan Airbus A-320. Baik United Aircraft Corporation yang memproduksi MC-21 maupun Commercial Aircraft Corporation of China (Comac) yang melahirkan C919 menunjukkan percaya diri untuk bisa eksis dalam pertarungan.
Mereka optimistis karena pesawat jet dengan mesin kembar produksi mereka lebih murah, lebih efisien, dan lebih cepat. Untuk diketahui, seperti dilansir media terkemuka Rusia, Sputnik News, MC-21 siap melakukan uji coba penerbangan sebelum akhir Mei. Kamis (4/5/2017), pesawat berkapasitas antara 150-211 itu meninggalkan ruangan indoor. Seorang sumber dari Irkut Corporation mengatakan, MC-21 sedang dipersiapkan sebelum lepas landas untuk pertama kali.
Jumat 5 Mei 2017, C919 juga untuk pertama kali melakukan uji terbang di Bandara Pudong, Shanghai dan sukses terbang selama 90 menit. Para ahli dari Rusia menilai MC-21 akan mampu bersaing baik dengan perusahaan pesawat asal Amerika Serikat (AS) dan Prancis itu. Sebab, pesawat tersebut dirancang lebih cepat, lebih efisien, dan lebih murah. Di samping itu, konstruksi MC- 21 sedikit lebih modern; rancangan mesin dan sistem avioniknya juga lebih canggih.
Boeing-737 dan Airbus A- 320 memiliki kecepatan jelajah 828 kilometer per jam dan 842 kilometer per jam, sedangkan MC-21 870 kilometer per jam. Satu unit MC-21 dibanderol antara USD72-85 juta, tergantung tipe dan model serta modifikasi. Sementara C-919 mempunyai kecepatan 300 km//jam dan akan dibanderol USD50 juta, atau kurang dari setengah harga Airbus A320 dan Boeing 737 yang mempunyai harga lebih dari USD10 juta. Berdasarkan Irkut Corporation, ada tiga jenis MC-21, yakni MC-21-200 berkapasitas 150 penumpang, MC-21-300 berkapasitas 180, dan MC-21-400 berkapasitas 210. Pemeliharaannya juga 12-15% lebih murah.
Dari segi emisi, seluruh tipe MC-21 diyakini 20% lebih ramah lingkungan dibanding pesaingnya, Boeing dan Airbus. MC-21 juga memiliki rancangan sayap komposit yang belum pernah ada di kelas ini sebelumnya. Saat ini pesawat prototipe yang akan diuji coba menggunakan mesin PW1400G pabrikan perusahaan AS Pratt & Whitney. Ke depannya, MC-21 akan dipasangi mesin baru pabrikan perusahaan mesin pesawat Rusia Aviadvigatel, PD-14.
“Kami telah menerima 175 pesanan untuk pesawat ini,” ujar Irkut Corporation beberapa waktu lalu. Sebanyak 100 pesanan lainnya juga sudah masuk, tapi belum 100% positif. Maskapai penerbangan lokal Aeroflot akan menjadi operator pertama yang menggunakan MC-21. Perusahaan itu berencana membeli 50 unit pesawat. Irkut Corporation akan mulai mengirimkan MC-21 pada akhir 2018 atau awal 2019.
Perusahaan induk Irkut, United Aircraft Corporation, menyatakan pemasaran MC-21 tidak hanya akan dilakukan di Rusia, tapi juga di India, China, Asia Tenggara, dan Amerika Latin mengingat potensi pasar yang besar dan hubungan yang mulus. MC-21 secara berangsurangsur juga akan menggantikan pesawat-pesawat tua Rusia dari era-Uni Soviet, seperti Tupolev, Yak, dan Antonov.
“Material 40% komposit, mesin baru, sistem efisien, dan kabin kaca. Semua itu hanya diterapkan di pesawat tempur, tapi kini di pesawat sipil,” kata editor Aviapanorama Vladimir Popov.
Popov menambahkan, kemunculan MC-21 merupakan perlambang Rusia mengalami kemajuan pesat di bidang penerbangan. Sebelumnya, Rusia juga membuat pesawat sipil bermesin kembar yang lebih kecil Sukhoi Superjet 100.
“Kami menunggu MC-21 sejak lama dan kini akhirnya muncul. Rusia memasuki era baru,” ujarnya.
C919 juga tidak mengkhawatirkan pasar. Pasalnya, pesawat tersebut sudah dipesan 570 unit dari 23 calon pembeli. Sebanyak 90% pesanan berasal dari perusahaan milik pemerintah, seperti Air China, China Southern, dan China Eastern Airline, sedangkan sisanya dari Afrika, Jerman, dan Thailand.
Kehadiran C919 merupakan mimpi yang terwujud. China sejak 1970-an sudah berangan membuat pesawat komersial. Saat itu Institut Riset Pesawat Shanghai merancang pesawat Shanghai Y-10. Sayangnya, pesawat senilai 537,7 juta yuan itu dianggap tidak layak dan tidak pernah digunakan. Mesin turbofan asli WS-8 akhirnya diganti dengan mesin Boeing 707, Pratt & Whitney JT3D-7.
Selama menghadiri acara Comac pada 2014, Presiden China Xi Jinping mengungkapkan kekhawatiran karena China tidak mampu membuat pesawat sendiri dan selalu bergantung terhadap industri asing. Agustus lalu, China mengerahkan 100.000 orang untuk membangun mesin buatan sendiri yang dibiayai konglomerat kaya. CEO Qatar Airways Akbar Al Beker melihat kehadiran MC- 21 dan C919 akan menghancurkan monopoli Airbus dan Boeing dan akan membuat persaingan kian menarik.
Berdasarkan laporan Allied Market Research (AMR), pasar pesawat komersial di dunia akan mencapai USD209 miliar pada 2022. Mayoritas penawaran akan datang dari negara Asia Pasifik dengan angka 40%. Pertumbuhan ini didorong berbagai faktor, seperti peningkatan jumlah penumpang, pariwisata, dan perkembangan ekonomi.
Boeing merupakan perusahaan penerbangan terbesar dengan pendapatan USD42,5 miliar, disusul Airbus (USD36 miliar), Lockheed Martin (USD21,95 miliar), United Technologies Corporation (USD17,3 miliar), General Dynamics Corporation (USD14,73 miliar), BAE System (USD12,91 miliar), Northtrop Grumman (USD11,88 miliar), Raytheon (USD11,2 miliar), dan Safran (USD9,65 miliar).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar